Sri Mulyani Hadiri Forum IMF-WB di Washington, Apa Manfaat Bagi RI?

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, bersama Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, menghadiri Pertemuan tahunan atau Annual Meeting International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) di Washington yang berlangsung sejak 11 hingga 15 Oktober.

Apa manfaatnya bagi Indonesia?

Acara tersebut memiliki rangkaian kegiatan yang cukup padat. Mulai dari seminar hingga pertemuan puncak dan beberapa pertemuan bilateral dengan tokoh-tokoh penting. Secara umum, Sri Mulyani mendapatkan banyak informasi tentang arah perekonomian dunia.

“Pembahasan dengan IMF, kita melihat situasi yang kita diskusikan antar menkeu dan bank sentral itu memberikan pemahaman risikonya ada di mana dan policy-nya seperti apa,” ungkap Sri Mulyani di Kantor Pusat Bank Dunia, Sabtu (14/10/2017) waktu setempat.

Salah satu yang dinanti dari Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), Janet Yellen, adalah tentang arah kebijakan suku bunga acuan. Ini penting karena cenderung berpengaruh kuat bagi ekonomi banyak negara di dunia.

“Seperti Janet Yellen dia menyampaikan sangat detail mengangani perkembangan inflasi dan pengangguran sehingga ita bisa mendapatkan sense kira-kira seberapa cepat dan ambisius kenaikan suku bunga di AS,” jelasnya.

Begitu juga dengan negara maju lainnya seperti Jepang yang juga bermasalah dengan inflasi dan kawasan Uni Eropa yang tengah dalam pergantian pimpinan di masing-masing negara.

“Kita mendengar dari Jepang bagaimana kondisinya terakhir, masalah inflasi lagi dan pengangguran. Seberapa besar akan melakukan policy stimulus dari moneter dan fiskalnya,” terangnya.

“Kita juga dengar dari Mario Draghi (Gubernur Bank Sentral Eropa) mengenai kondisi pickup recovery dan bagaimana konsolidasi sektor moneternya,” kata Sri Mulyani.

China juga masih jadi sorotan. Indonesia perlu memperhatikan negeri tirai bambu tersebut karena merupakan mitra dagang utama Indonesia.

“Kita denger dari Gubernur Bank Sentral China, dan itu akan memberikan kita oh ini ekonomi besar lagi menuju ke mana. Sehingga kita punya sense of risk, dan kita punya oppurtunity ke depan,” ujarnya.

Meski demikian, Sri Mulyani memastikan tidak ada perubahan dalam asumsi makro di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang tengah dibahas dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Asumsi makro untuk 2018 tidak akan diubah. Artinya kan kita membahas dewan dan dibahas di Panja A dan digunakan sebagai pegangan. Sekarang kita fokus untuk Panja B dan C mengenai transfer ke daerah dan belanja,” paparnya.

Ekonomi Indonesia diasumsikan tumbuh 5,4% di 2018. Sri Mulyani optimistis APBN bisa selesai pada akhir bulan ini. “Kita harap bisa selesaikan APBN itu sebelum akhir oktober ini,” imbuhnya.

Respons Bank Indonesia

Gubernur BI, Agus Martowardojo, memandang optimistis ekonomi dunia yang diproyeksi lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu menjadi 3,6% pada 2017 dan 2018 sebesar 3,8%. Menurut Agus, hal itu harus bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk ikut tumbuh lebih tinggi.

Menyikapi proyeksi tersebut, Agus tetap tak mau gegabah. Arah kebijakan moneter BI masih tetap netral sampai ada indikator yang berubah signifikan. Khususnya inflasi dan nilai tukar.

“Stance kebijakan BI ke depan secara umum masih akan sama. Kita melihat stance sekarang netral dan kita secara umum akan menjaga agar BI 7 days repo rate ada di tingkat yang bisa membawa inflasi Indonesia ke arah target inflasi yang ditetapkan BI dan pemerintah, yaitu 2017 4% dan 2018 3,5% itu policy stance tingkat bunga bahwa betul-betul inflasi terjangkar seperti target itu,” terang Agus di Kantor Pusat IMF, Washington.

“BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia karena mandat untuk menjaga stabilitas harga dan stabilitas rupiah,” tegasnya.

Sumber: detikFinance

Leave a Reply