Ramalan IMF Soal Ekonomi Dunia, Mendung atau Cerah?

Lembaga Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk periode 2017 dan 2018. Ada kenaikan masing-masing 0,1%. Sehingga pada 2017 ekonomi diproyeksikan tumbuh 3,6% dan 2018 tumbuh 3,7%.

Proyeksi ini juga lebih tinggi dibandingkan realisasi di 2016 yang hanya mencapai 3,2%.

“Ada kenaikan proyeksi masing-masing 0,1% dibandingkan dengan proyeksi kita sebelumnya (April 2017) dan di atas realisasi 2016 yang 3,2%, di mana merupakan level terendah sejak krisis keuangan global,” kata Maurice Obstfeld, Kepala Ekonom IMF, dalam rangkaian pertemuan IMF-World Bank di Kantor Pusat IMF, Washington, Rabu (11/10/2017) waktu setempat.

Berdasarkan komponen di dalamnya, ekonomi dunia positif seiring volume perdagangan yang tumbuh 4,2% pada 2017 atau naik hampir dua kali lipat dari tahun lalu. Inflasi diproyeksi mencapai 1,7%.

Obstfeld menyebutkan ini sebagai fase percepatan. Tergambar dari akselerasi yang terjadi pada negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Sebut saja Amerika Serikat (AS) yang tahun ini ekonominya diproyeksi tumbuh 2,2% atau lebih tinggi dari realisasi 2016 yang sebesar 1,7%.

Selanjutnya Eropa dengan 2,1% (dari 1,8%), Jepang 1,5% (dari 1%), dan China yang masih mampu untuk tumbuh 6,8% pada 2017 atau di luar perkiraan banyak pihak.

Selain negara-negara berkembang, kawasan Asia juga diprediksi menunjukkan raihan yang luar biasa. Seperti India dengan 6,7% serta negara seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, Malaysia dan Thailand yang mampu tumbuh di atas 5%. Indonesia diproyeksi tumbuh 5,2% di 2017.

Kawasan Afrika juga memberikan peran terhadap perekonomian dunia. Nigeria yang tadinya tumbuh negatif 1,6%, pada 2017 diproyeksi mampu tumbuh 0,8% dan Afrika Selatan dari 0,3% diproyeksi bisa tumbuh 0,7%.

Rusia dan Brasil yang tadinya diprediksi mengalami kontraksi ekonomi akibat kejatuhan harga minyak dan komoditas, diperkirakan bisa kembali tumbuh positif, masing-masing 1,8% dan 0,7% di tahun ini.

“Benar sudah tumbuh positif, tapi sebenarnya pemulihan yang terjadi belum lengkap,” jelasnya.

Ada tiga hal yang menyebabkan pemulihan perekonomian dunia belum sepenuhnya sempurna. Pertama dari dalam negara itu sendiri. Seperti pada upah rata-rata pekerja di dunia yang masih dalam kategori lesu atau tidak mengalami pertumbuhan signifikan pasca krisis. Bahkan tampak ada kesenjangan, karena pekerja pada level menengah ke bawah tumbuh lebih lambat dibanding dengan para pimpinan.

Hal ini tidak lepas dari peran teknologi yang sudah bisa mengambil alih sebagian dari tugas manusia, serta efisiensi yang dilakukan oleh banyak perusahaan besar di dunia.

Kedua, permasalahan yang berada pada lintas negara. Contohnya yaitu perdagangan komoditas dengan harga yang masih rendah hingga persoalan keresahan akan ketidakpastian politik yang berasal dari negara lainnya. Ini bisa terlihat di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara dan Amerika Latin.

Ketiga, menurut Obstfeld yaitu hal-hal yang membutuhkan waktu lebih lama. Misalnya dari sisi demografi. Hal ini menjadi pendorong ekonomi yang cukup besar, namun pada beberapa negara, demografi justru datang lebih lambat dari siklus yang seharusnya.

“Pemulihan yang belum lengkap ini menjadi tantangan bagi pengambil kebijakan,” tegasnya.

Kebijakan yang ditempuh harus disesuaikan dengan persoalan masing-masing negara. Namun Obstfeld menekankan agar kebijakan tersebut bersifat struktural dan berkelanjutan. Baik yang berhubungan dengan fiskal maupun moneter serta penciptaan iklim usaha yang kondusif.

“Bila pemerintah ingin membuat kebijakan strategis, maka waktu sekarang adalah yang paling tepat. Kebijakan strategis itu tepat dibuat saat kondisi membaik bukan sedang memburuk,” terangnya.

Sumber: detikFinance

Leave a Reply