Diskusi Sengit Sri Mulyani, Menkeu Prancis dan Bos IMF

Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde, Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire dan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati berada dalam satu sesi diskusi pada rangkaian Annual Meeting IMF-World Bank di Washington, Kamis (12/10/2017) waktu setempat.

Diskusi mengenai ekonomi dunia berlangsung hangat, menarik dan begitu dinamis. Meskipun dipandu oleh moderator, namun masing-masing narasumber tampak begitu semangat menyampaikan pendapat. Bahkan sempat saling sanggah satu sama lainnya. Sehingga penonton yang memenuhi atrium tak beranjak dari tempat duduknya.

Salah satu bagian diskusi yang menarik adalah tentang pertumbuhan ekonomi. Lagarde mengawali pernyataan dengan kondisi ekonomi terkini. IMF baru saja merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, dari 3,5% menjadi 3,6%. Proyeksi yang optimistis di tengah ketidakpastian.

Menurut Lagarde, kondisi sekarang lebih seimbang karena ekonomi dunia tidak hanya bergantung kepada negara berkembang saja. Deretan negara maju juga telah memberikan konstribusi, seperti zona eropa, Amerika Serikat hingga Jepang.

AS yang tahun ini ekonominya diproyeksi tumbuh 2,2% atau lebih tinggi dari realisasi 2016 yang sebesar 1,7%.

Selanjutnya Eropa dengan 2,1% (dari 1,8%), Jepang 1,5% (dari 1%), dan China yang masih mampu untuk tumbuh 6,8% pada 2017 atau di luar perkiraan banyak pihak.

“Sekarang kita bisa lebih seimbang,” kata Lagarde.

Menurut Lagarde yang perlu diperhatikan adalah kondisi permintaan dan penawaran. Sehingga negara dengan ekspor mayoritas komoditas bisa kembali hidup dan mendorong kenaikan harga internasional. Sehingga bisa mendorong ekonomi global secara keseluruhan. “Kita harus sadar kita semua terkoneksi dengan baik,” jelasnya.

Sri Mulyani mengamini pentingnya mendorong ekonomi tumbuh lebih tinggi. Akan tetapi juga patut menjadi perhatian serius tentang ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Artinya ekonomi yang merata untuk seluruh masyarakat.

“Kita di sini juga ingin ekonomi kembali tinggi, namun juga tetap ekonomi inklusif,” timpal Sri Mulyani..

Agar ekonomi tumbuh tinggi, kata Sri Mulyani, kebijakan yang perlu diambil bisa saja dengan suku bunga acuan rendah hingga agresivitas pada kebijakan fiskal. “Tapi itu belum tentu bisa membuat berkelanjutan,” imbuhnya.

Di sisi lain, bila hanya fokus pada ekonomi yang tinggi seringkali pemegang kebijakan lupa untuk menyiapkan antisipasi. Termasuk soal munculnya kesenjangan ekonomi.

“Ekonomi yang tinggi belum tentu bisa langsung mengatasi kemiskinan , khususnya membantu bagi level kelas menengah bawah. Saya pikir ini adalah kunci. Semua diskusi tentang kebijakan fiskal di sini harus objektif. Kita haru melihat agregat demand di sebuah negara, dan kita harus menciptakan kualitas dalam membelanjakan anggaran negara,” papar Sri Mulyani.

“Kita harus bis mendukung kelas menengah ke bawah dan di saat yang sama, kita harus pastikan itu berkelanjutan, karena kita juga harus mengumpulkan pajak,” tegasnya.

Bruno ikut terlibat dalam diskusi tersebut. Baginya ekonomi harus dilihat secara optimistis. Ada dua kesimpulan yang menurutnya penting untuk diperhatikan. Pertama lanjutkan akselerasi reformasi yang selama ini sudah berjalan meskipun kondisi tengah membaik. Kedua, kata Bruno adalah antisipasi semua risiko terburuk.

“Biar atapnya tidak bocor,” kata Lagarde menimpali pernyataan Bruno. Bruno oun membalas dengan ucapan terima kasih.

Hal-hal yang harus diantisipasi di antaranya aset dan utang. Serta dalam jangka menengah panjang juga perlu diperhatikan pelebaran jurang si kaya dan si miskin.

“Itu juga masalah yang dihadapi di Prancis, ya kalau ekonomi berkelanjutan kesenjangan harus diturunkan,” pungkasnya.

Sumber: detikFinance

Leave a Reply